Categories
Data

Usai Mengumumkan Merger, Mayoritas SPAC Justru Mengalami Penurunan Harga Saham

ILUSTRASI. FILE PHOTO: Gedung New York Stock Exchange (NYSE) di Manhattan, New York City, New York, AS, 11 Agustus 2020. REUTERS/Mike Segar/File Photo Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata KONTAN. CO. ID - NEW YORK. Pamor special purpose acquisition company (SPAC) pada mata investor mulai buyar. Analisis yang dilakukan Reuters atas data Refinitiv & perusahaan riset SPAC Research, …

SKETSA. FILE PHOTO: Gedung New York Stock Exchange (NYSE) di Manhattan, New York City, New York, AS, 11 Agustus 2020. REUTERS/Mike Segar/File Photo

Sumber: Reuters | Editor: Thomas Hadiwinata

KONTAN. CO. ID –  NEW YORK. Pamor special purpose acquisition company (SPAC) di sembrono investor mulai pudar. Kajian yang dilakukan Reuters pada data Refinitiv dan kongsi riset SPAC Research, membuktikan pertumbuhan harga saham SPAC, yang juga populer disebut perusahaan cek kosong, jauh di bawah return yang dibukukan saham-saham yang menyelap kelompok S& P 500.

Reuters menemukan bahwa lebih dibanding 100 perusahaan cek sepi yang mengumumkan merger di tahun ini, rata-rata mencetak peningkatan tidak sampai 2% dari harga perdagangkan masing-masing saat pertama kali terekam di bursa. Sebagian tinggi dari SPAC mulai diperdagangkan di bursa efek pada tahun lalu.

Di periode yang sama, median pertumbuhan harga ikatan saham S& P 500 sebesar 15%.

Kinerja saham SPAC yang mengecewakan itu menyusul tergerusnya popularitas SPAC. Usulan merger yang diusung kongsi cek kosong diprediksi tak lagi menarik, mengingat otoritas bursa di AS bermaksud mengetatkan aturan terhadap SPAC.

Baca Juga: Lindungi investor, regulator bursa AS akan buat aturan untuk perusahaan memeriksa kosong

Di awal 2021, investor individu tampak berebutan mengikuti permintaan saham perdana SPAC, dengan mengakuisisi startup. Maklumlah, startup yang diakuisisi SPAC bekerja di industri yang jarang dimiliki investor ritel, sesuai kendaraan listrik dan perjalanan luar angkasa.

Namun setelah itu, minat investor ritel untuk menampung saham SPAC tiba merosot. Pembelian bersih harian investor ritel atas saham SPAC turun menjadi sekitar $ 181 juta lantaran $ 500 juta di dalam akhir Januari, menurut perusahaan riset VandaTrack.

IPO yang membawabawa SPAC memang memunculkan memihak dan kontra. Ada dengan menilai merger terlebih zaman dengan SPAC, sebelum IPO membuka jalan bagi perusahaan rintisan untuk terhindar sebab biaya selangit yang konvensional dibebankan bank investasi di IPO.

Baca Juga: Ini Dalil Perusahaan di AS Pilih Merger dengan SPAC untuk Catatkan Saham Bursa

Sementara mereka yang kontra menyatakan skema itu memaksa investor menanggung kos yang besar melalui dilusi saham. Penurunan kepemilikan itu terjadi selama proses peluncuran SPAC dan proses masukan perusahaan target.

Sebuah studi yang digelar Universitas Stanford dan Universitas New York (NYU), belum lama ini, menemukan bahwa SPAC yang menutup lebih besar ke cukong akan mengalami penurunan nilai lebih dalam setelah konsolidasi dengan perusahaan target mereka..

“Bukan hanya nasib buruk dengan menyebabkan SPAC berkinerja membatalkan, ” kata Michael Ohlrogge, asisten profesor hukum pada NYU School of Law dan salah satu penulis studi tersebut. “Ada semua biaya yang menguras nilai dari merger SPAC, serta biaya tersebut diteruskan ke investor. ”