Categories
Data

Transaksi di bursa cenderung hening, beberapa saham tetap memikat

LANGSUNG. CO. ID – JAKARTA. Transaksi di bursa bagian cenderung lesu dalam kira-kira waktu terakhir. Pada pasar pertama bulan puasa 13 April 2021 – 16 April 2021 lalu, rata-rata volume perdagangan saham menyentuh 15. 82 miliar saham. Sementara itu, rata-rata biji perdagangannya mencapai Rp 9, 81 triliun, dengan rata-rata frekuensi perdagangan 1, 01 juta kali.

LANGSUNG. CO. ID – JAKARTA . Transaksi di bursa saham cenderung lesu dalam beberapa waktu terakhir. Di pekan pertama bulan puasa 13 April 2021 porakporanda 16 April 2021 berarakan, rata-rata volume perdagangan bagian menyentuh 15. 82 miliar saham. Sementara itu, rata-rata nilai perdagangannya mencapai Rp 9, 81 triliun, dengan rata-rata frekuensi perdagangan 1, 01 juta kali.

Selanjutnya pada 19 April 2021 hingga 23 April 2021, rata-rata volume perniagaan mencapai 14, 77 miliar saham. Sementara rata-rata biji perdagannya mencapai Rp 8, 66 triliun. dengan sama frekuensi perdagangan 897. 876 kali saja.

Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Okie Ardiastama bilang, di pekan pertama kamar puasa, investor sempat melihat peluang naiknya daya kulak di momentum puasa dan Lebaran. Bahkan, berpotensi bertambah baik dibandingkan tahun semrawut.

Walau begitu, Okie juga tidak memungkiri perniagaan di bursa berpeluang serat di tengah bulan Ramadan. Perlambatan yang terjadi memikirkan IHSG yang cenderung meluncur dalam sebulan terakhir. Apalagi, penurunan diiringi dengan terkikisnya volume perdagangan.

Baca Juga: IHSG berpeluang melanjutkan technical rebound pada Senin (26/4), ini alasannya

Menurut Okie, pelemahan tersebut mengindikasikan ekspektasi investor menjelang rilis kinerja keuangan kuartal I 2021 dan perkembangan pemulihan ekonomi di kuartal II 2021.

“Kami tahu saat ini investor bertambah cenderung wait and see, sehingga pergerakan IHSG menjelma terbatas. Setidaknya, hingga rilis kinerja keuangan pada kausa bulan depan, ” cakap Okie kepada Kontan. co. id, Jumat (23/4).

Lebih lanjut ia membaca, menurut beberapa indikator, momentum pemulihan ekonomi Indonesia telah mulai terlihat saat itu. Selama tren pemulihan terus berlanjut, penurunan di pura dapat dijadikan momentum pembelian secara bertahap.

Okie masih merekomendasikan saham-saham dengan bergerak di sektor perbankan, perkebunan, dan telekomunikasi. Buat perbankan, kinerja emiten diprerkirakan cukup solid dan bertambah baik pada tahun tersebut. Momentum pemulihan ekonomi diproyeksi dapat menurunkan non performing loan  (NPL) atau rekognisi macet perbankan.

Untuk sektor perkebunan, momentum kemajuan harga komoditas menjadi kausa utama. Sementara itu,   permintaan data yang tinggi akan menjadi penopang kemampuan emiten-emiten sektor telekomunikasi.

“Beberapa saham yg dapat dijadikan pertimbangan BBCA, BBRI, BBNI, BMRI, BBTN, LSIP, AALI, TLKM, EXCL, ” ujarnya.

Tidak berbeda jauh, Kepala Riset Henan Putihrai Sekuritas Robertus Yanuar Hardy menyebutkan, transaksi di rekan saham yang stagnan apalagi berpotensi menurun akan bersambung dipicu ketidakpastian di pasar global.

“Karena meningkatnya penyebaran Covid-19 di kira-kira negara seperti India, Jepang dan Thailand, ” ujarnya kepada Kontan. co. id, Jumat (23/4).

Dia mengungkapkan, nilai transaksi harian yang tercatat sekitar Rp 9 triliun hinga Rp 10 triliun akhir-akhir ini, dapat dikatakan sepi. Apalagi jika dibandingkan nilai pembicaraan harian pada Januari dan Februari yang bisa mencapai Rp 20 triliun serta 18 triliun.

Perihal pasar yang sepi berisiko berlanjut, melihat investor asing yang cenderung mencatatkan berniaga bersih atau net sell. Di tengah kondisi pasar yang lesu, investor mampu mengambil strategi buy on weaksness saham-saham blue chips.

Beberapa saham yang dijagokannya seperti ASII, BBCA, dan TLKM. Ketiganya dasarankan buy on weakness dengan target harga masing-masing Rp 6. 750 per bagian, Rp 36. 700 per saham, dan Rp 3. 900 per saham.

 

 

gong2deng –>

Editor: Khomarul Hidayat