Categories
Data

Ekosistem Logistik Perspektif Maritim

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti KONTAN. CO. ID – Ekosistem Logistik Nasional atau ELN, kini menjadi introduksi yang bergaung kencang dalam labirin perlogistikan nasional. Hal ini terutama sejak diberlakukannya Inpres Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional pertengahan Juni 2020 yang lalu.

Sumber: Harian KONTAN | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN. CO. ID – Ekosistem Logistik Nasional atau ELN, saat ini menjadi kata yang bergaung kencang dalam labirin perlogistikan nasional. Hal ini terutama sejak diberlakukannya Inpres Nomor 5 Tahun 2020 mengenai Penataan Ekosistem Logistik Nasional pertengahan Juni 2020 yang lalu.

Seluruh pemangku kepentingan atau  stakeholder  sektor ini membicarakannya, rata-rata dengan tone positif. Mereka berniat dengan ELN bisa menjadi metode pembuka dalam upaya memperbaiki kinerja logistik negeri ini yang masih terus digelayuti inefisiensi yang lumayan payah.

Saya termasuk yang beruntung sempat mengikuti beberapa kali rapat dengan diadakan oleh Kementerian Koordinator Bagian Kemaritiman dan Investasi untuk mempercakapkan ELN. Rapatnya ada yang digelar di kantor instansi itu maupun di sebuah hotel di kota hujan Bogor Jawa Barat.

Era itu istilahnya masih dalam Cara Inggris:   National Logistics Ecosystem  (NLE). Kini disingkat ELN. Dibalik saja. Muncul bervariasi pandangan dari hadirin yang menggantikan berbagai asosiasi dan perusahaan terpaut gagasan tersebut dalam forum. Gubahan ini hanya akan menyajikan pandangan dari sudut bisnis pelayaran.

Pandangan kalangan pelayaran dalam negeri itu begini. Ekosistem Logistik Nasional (ELN) dinilai tidak atau belum mampu diintegrasikan ke dalam bisnis mereka karena masing-masing pelaku usaha sudah memiliki platform digital sendiri. Sebab pelayaran dalam negeri ini cuma agen dari operator internasional tersebut berarti sistem digital yang dimanfaatkan langsung dari server di luar negeri di sana. Agen hanya dibagi  password  sekadar oleh  principal -nya, tidak bisa memutuskan bergabung ataupun tidak ke dalam ELN.

Salah satu menu/item dalam jaringan adalah  bill of lading  (B/L). Antara sistem Teknologi Informasi (TI)  principal  dengan maklumat yang ada di Indonesia, pertama dengan sistem yang dikelola sebab pemerintah semisal Indonesia National Single Window, tidak bisa berkomunikasi belakangan tak terhindarkan B/L tetap pada format aslinya berupa dokumen kertas. Inilah alasan mengapa bisnis pelayaran domestik masih belum sepenuhnya  paperless .

Konosemen Bahasa Indonesia untuk  bill of lading  yang masih konvensional tadi mengakibatkan proses yang terkait dengannya, misalnya pembayaran-pembayaran biaya/tagihan, juga tidak sepenuhnya bisa digital. Ditambah tak semua kantor di pelabuhan, bank khususnya, yang beroperasi (24/7) lengkaplah sudah kelambatan upaya  go digital  yang sudah digeber selama ini.

Operator internasional ( main line operator ) memang memiliki platform PENJAGA masing-masing sebagai upaya memudahkan metode bisnis korporasi. Di samping tersebut, dengan digitalisasi yang mereka jalankan diharapkan muncul  revenue stream  baru yang bisa menguatkan struktur keuangan perusahaan yang makin tertekan akibat perubahan lingkungan penting. Tetapi, belakangan ada inisiatif untuk membuat semua platform ini silih bicara antara satu dengan lainnya melalui Tradelens.

Tradelens merupakan anjungan digital yang diinisiasi sebab IBM dan pelayaran Maersk pada kota San Francisco, AS, dalam Januari 2018. Sebagai inisiator, operator asal Denmark itu meniatkan kerja mereka untuk kemaslahatan bisnis pelayaran dunia. Ide perlunya platform itu selanjutnya dikembangkan lebih konkret oleh IBM dengan menggandeng GTD Solution Inc, sebuah perusahaan yang fokus dalam bidang digitalisasi sektor transportasi/logistik, anak usaha Maersk.

Niatan Maersk menjadikan Tradelens sebagai platform bergandengan bagi insan pelayaran disambut cara oleh raksasa pelayaran lainnya seolah-olah CMA CGM (Prancis) dan Mediteranian Shipping Company/MSC (Swiss). Di lapangan, perusahaan-perusahaan ini sebetulnya berkompetisi saksama dalam sektor pelayaran peti kemas, khususnya antara Maersk dan MSC yang membentuk aliansi 2M dengan CMA CGM yang merupakan anggota Ocean Alliance.

Namun semangat untuk menjadikan bisnis pelayaran lebih cakap membuat mereka mengenyampingkan kompetisi yang ada dan ikut terlibat di dalam mengusung dan menyukseskan platform Tradelens. Achievement-nya terbilang mengesankan. Saat ini sudah ratusan entitas bisnis pangkalan, perusahaan truk, pergudangan, dan lain sebagainya sudah bergabung ke di dalam anjungan itu. Mereka berasal sebab berbagai belahan dunia.

Fusi dengan INSW

Nusantara National Single Window (INSW) dalam derajat tertentu barangkali dapat disejajarkan dengan Tradelens. Bedanya, satu dimotori oleh pemerintah/negara, satunya lagi oleh swasta.

Pertanyaannya, apakah INSW mampu berbicara dengan Tradelens dalam gaya yang sama? Jika tidak, platform domestik yang mana yang bakal dijadikan mitra anjungannya pelayaran ijmal itu?

Seperti yang sudah disampaikan oleh pengelola Ekosistem Logistik Nasional (ELN), dalam hal ini Direktorat Jenderal Bea dan Cukai, Departemen Keuangan, ELN bukanlah sebuah maklumat. Ia sebagai integrator dari berbagai platform yang ada milik badan pemerintah maupun yang dioperasikan sebab swasta. Pertanyaan berikutnya, apakah ELN juga memasukkan platform asing sebagai ekosistemnya?

Komunikasi dengan platform pelayaran internasional yang ada sependek wawasan penulis sejauh ini baru menyembul Tradelens saja patut dipikirkan memikirkan 90% aktivitas ekspor-impor nasional dilakukan oleh kapal asing. Dari pagu ini pelayaran atau transportasi peti kemas amat dominan perannya. Itu berarti pengelola Tradelens perlu diajak ngopi-ngopi dulu oleh pemerintah mempertimbangkan ELN. Sehingga, efektivitas ELN bagi komunitas pelayaran/logistik internasional juga ada manfaatnya. Bukan hanya untuk massa dalam negeri.

ELN masih pertama. Tentu masih banyak celah yang perlu dilengkapi agar ia mampu berjalan lancar seperti yang diharapkan. Apalagi tenggat waktu yang dikasih oleh Instruksi Presiden (Inpres) Bagian 5 Tahun 2020 hingga ELN bisa berjalan sepenuhnya masih kira-kira empat tahun ke depan. Waktu yang ada dimanfaatkan untuk menjepret seluruh proses bisnis yang tersedia dalam pelayaran peti kemas. Bila perlu, pemerintah mendorong pelaku daya logistik dalam negeri bergabung ke dalam Tradelens.

Bisnis pelayaran sudah berputar ribuan tahun lamanya. Dalam bahasa bisnis yang sama langgamnya di seluruh dunia. Bahasa itu kini dipercakapan dalam mulut dan telinga elektronik. Namun, maknanya tetap dipahami sama oleh peserta perbincangan. Kita mau mulut dan telinga elektronik yang kita miliki buat berkomunikasi dengan bisnis pelayaran negeri juga dapat bercakap dengan keterangan yang sama.

ELN dengan seluruh platform yang ada di dalamnya mudah-mudahan bisa berjalan dengan baik tanpa perlu menjadikan ekosistem logistik kita seperti katak dalam sayak. Semoga.

Penulis: Siswanto Rusdi

Penasihat The National Maritime Institute (Namarin)


–> Video Pilihan gong11deng –>
KEMARITIMAN DAN SUMBER DAYA

gong11deng –>